CLAVICULA DEXTRA

IMG_5407

Barangkali obat penyembuhan terbaik adalah semangat untuk cinta. Dan ketika aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku mencintainya? Tubuhku menjawabnya “ya!” dengan bukti-bukti yang kasat mata.

Sekian tahun yang lalu, di masa-masa awal ketika aku mengenal Nana (panggilan sayangku untuk Selviya), saat aku menyadari untuk pertama kalinya hatiku terpaut padanya, aku sudah memiliki sebuah tekad untuk selalu mengantarnya bekerja. Kami kebetulan bekerja di kantor yang sama. Dia tidak memiliki kendaraan sehingga acap kali ketika angkot tak didapat, nebeng pada teman adalah alternatif baginya. Dan aku melihat fakta itu sebagai peluang untuk makin dekat dengannya.

Menawarkan diri menjadi “tukang ojek” pribadi padanya adalah satu dari serangkaian kebodohanku yang manis di saat itu. Kenangan yang mengulumkan senyum.

Namun, ah! Kemujuran tidak berpihak padaku. Aku mengalami kecelakaan jatuh dari motorku, hingga patah tulang. Clavicula Dextra adalah nama tulang yang menyangga pundak dan lengan kanan, letaknya di bawah leher sebelah kanan. Tanpa tulang itu, kita tak bisa mengangkat pundak kanan dan lengan kita akan terkulai. Sungguh celaka bagiku, tulang itulah yang patah. Bagaimana aku bisa mengendarai kendaraan jika tangan kananku tak berfungsi. Bagaimana aku bisa menjadi “tukang ojek pribadi” bagi Nana? Aku putus asa, patah tulang butuh penyembuhan lama, dan selama itu pasti sudah ada teman kantor kami yang lebih dulu menyerobot peluang menjadi “tukang ojek pribadi” Nana. Baca lebih lanjut

Iklan

KEJUTAN DI PULAU DEWATA

428866_3456643141003_1665239383_n

The biggest surprise in our Love Trip. Teman-teman dari MIC Publishing, tempat Selviya bekerja, membuat papertools dan personal message dari tiap-tiap orang, serta mengirimkannya ke Bali! Ketika kami masuk ke kamar hotel, wonderful surprise ini sudah tertata apik di atas ranjang 😛

Well, teman-teman kantor memang memberi surprise lainnya, yaitu paket honeymoon menginap 2 hari 3 malam di Fave hotel, Seminyak, serta 1 hari tur keliling Gianyar, Ubud, dan ditutup dengan romantic dinner di Jimbaran. Tapi kejutan yang ini (belakangan tahu kalau salah satu rekan sampai bela-belain ke bandara Juanda agar paket ini terkirim tepat waktu) sungguh mengharukan 🙂

Thank you …

AH, TERNYATA DIA PUN SUKA

Kami menikah dan kami tetap melanjutkan budaya sebelumnya saat masih berpacaran: bertengkar. Konflik ini kadang sangat keras. Bukan karena kami memiliki perbedaan, namun karena justru karena kami memiliki kesamaan. Api dan api. Batu dan batu.

Nana mampu menulis list persamaan dan perbedaan kami. Aku tidak menulis, namun mengamati hal-hal mengejutkan pada dirinya yang diam-diam menelusupkan rasa kagum dan suka, dan syukur yang tiada terkata karena memiliki belahan jiwa sepertinya.

Hari itu kami melintas Denpasar, dan seperti biasa, hatiku berlonjak-lonjak oleh kenangan lama yang terurai kembali, membadai memenuh dalam benakku. Bajrasandhi menyapa, Puputan badung mengedipkan sebelah matanya, pura-pura di Waturenggong dan Tukad Pakerisan melambai-lampai memanggilku. Dan meski aku menjelaskan betapa tempat-tempat ini pernah mengguratkan kenangan yang mengental dalam darahku, dan darinya aku mampu melahirkan satu buku cerita, Nana seolah tak memahaminya. Dia mengacau dan merusak nostalgiaku dengan rengekannya akan jarak terbuang. Merasa nostalgiaku tak dihargai, aku terbakar dan akhirnya kami berkonflik.

Konflik mereda secepat dia menyulut. Dan tawa kami berderai lagi. Baca lebih lanjut

CINTA ITU…

CINTA adalah pencarian tanpa henti pada tambatan tempat hati berlabuh,
dan pertamanan yang melindungi hati
Kepercayaan akan langkah yang menemukan sendiri takdirnya di tengah labirin
Pencarian tulus di tengah badai dan duri yang melukakan
Dan keteguhan untuk menemukan sang takdir Baca lebih lanjut

TITIK NOL KILOMETER CINTA

HNS_01571
Tak terkatakan dan mungkin takkan bisa kupahat dalam tulisan apa yang kami rasakan menghadapi bongkah baru kehidupan yang harus kami ukir. Sebuah bongkah yang lahir sejak Tuhan menurunkan berkatNya di hari paling bersejarah dalam perjalanan hidup cinta kami.

Pernikahan paling membanggakan bagi kami, kami pahat dan ukir dengan keinginan kami sendiri, kami lukis dengan tangan kami sendiri dan kami balut dengan kain warna pilihan kami sendiri. Sebuah gambaran kecil tentang pondok dinasti baru yang ingin kami bentuk di masa yang menjelang. Kami menengok kembali bagaimana indahnya kehidupan kami. Kami memiliki diri kami sendiri seutuhnya tanpa campur tangan keluarga. Kami memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa, yang mendukung kami dengan sepenuh-penuhnya dukungan. Dan di atas semua itu, kami memiliki Tuhan yang ajaib yang pemeliharaannya pada kami masih menakjubkan bagiku hingga hari ini, yang menjaga relasi ini utuh dengan cara-cara tak terduga. Baca lebih lanjut

SAHABAT: BADAI PENDORONG LAYAR

Tak seperti biasanya dimana Nana menunggu sms dari dalam kantornya dan mengondisikan akulah yang selalu menunggu, sore itu Nana justru yang di pinggir jalan menungguku. Serba terburu sebab tak hanya berencana melihat lokasi pernikahan sehingga kami mendapat gambaran seperti apa kelak acara dilangsungkan, namun kami juga punya janji bersama teman-teman, membahas kepanitiaan acara pernikahan.

Kami semua bertemu di Sinar Jemursari. Pertama kali yang datang untuk kami adalah pasangan Akhung dan Isanna, lalu Fanny, dan terakhir Ivanna bersama Maya. Satu hal yang terus bermain dalam benakku adalah, sahabat-sahabat ini berkorban datang bukan untuk kepentingan mereka, namun untuk kepentingan kami. Untuk kelangsungan pernikahan kami.

Dengan bahasa yang lebih ironi aku menggambarkan: ketika aku menoleh ke sudut-sudut ruangan plaza mencari teman-temanku sendiri, yang dulu mengklaim seia-sekata, seidealime, seperjuangan, sevisi…tak kutemui seorang pun. Aku tahu itu hanya ilustrasi kepedihan hati saja sebagai orang yang dicampakkan jauh. Mungkin teman-temanku yang kucari itu saat ini sedang berjerih lelah demi sesuap nasi untuk istri dan keluarganya masing-masing. Baca lebih lanjut

MENCANGKUL LADANG HATI

Ah, lelah sekali. Apalagi pulang seorang diri dengan naik bus kota. Namun setidaknya banyak hal mengesankan yang kami jalani sejak kemarin.

Sejak dua hari lalu kami mengikuti pembinaan pra-nikah GKI yang diadakan di Griya Mapan Sentosa, Pacet. Seperti biasa khas kami berdua, semua serba buru-buru. Nanaku dengan cantik mendampingiku. Kami dengar ini acara bina pranikah yang memecahkan rekor, dimana terdapat 28 pasangan. Wah, bagi kami ini serasa pacaran masal.

Ada 7 sesi yang dikebut dalam dua hari. Silih berganti pembicara dengan berbagai latar belakang tampil di depan kami. tidak ada yang melegakan selain menu makanan yang ternyata sangat sesuai dengan lidahku: nasi pecel dan rawon. Nana merengut…

Ketika kusadari tak ada peserta yang kukenal, maka aku menjadi sangat relaks, aku bisa menjadi diriku sendiri apa adanya, sehingga bisa dikatakan aku paling aktif bertanya. Aku tidak pernah tega melihat pembicara yang menawarkan tanya jawab namun tak ada yang mau bertanya. Jadi, setiap kali tawaran itu dilemparkan, otakku mengolah sejumlah pertanyaan. Sampai lima enam kali dariku pertanyaan terlontar, dan diskusi menjadi dinamis. Yang ingin kukatakan dari ini adalah: ketika tak ada yang mengenalku sehingga punya alasan mengalungkan berbagai penilaian padaku, aku menjadi relaks dan ringan. Hal serupa terjadi saat dulu kami menghadiri acara kajian valentine di gereja salah satu teman kami beberapa jam usai Nana menyatakan menerima cintaku di Hello Surabaya. Baca lebih lanjut